WHEN THE GIRL

WANNA TRY DO THE BEST AND GET THE BEST

Selasa, 01 Mei 2012


KAUM BURUH YANG TERMARGINALKAN
Tanggal  1 Mei diperingati sebagai hari buruh Internasional atau biasa disebut May Day. Sudah menjadi suatu rutinitas pada May Day dilakukan berbagai kegiatan advokasi, baik dari kalangan buruh, aktivis mahasiswa, LSM , dan siapapun yang peduli akan nasib buruh. Efek dari globalisasi menuntut sektor usaha di berbagai belahan dunia berkompetisi dalam memajukan industri. Tidak terkecuali Indonesia,  yang saat ini menuju proses industrialisasi terus menekan para pekerja agar terus produktif sehingga dapat memberikan keuntungan bagi perusahaan. Neo-Liberalisme yang terus berkembang di kalangan pengusaha terus menggeser hak-hak buruh yang seharusnya dapat terakomodir dengan baik. Tidak sedikit pengusaha yang mengesampingkan kesejahteraan para buruh demi untung yang dapat dikais. Lalu bagaimana perlindungan bagi buruh, apakah pemerintah sudah memfasilitasinya dengan baik?
Dalam UU tentang Ketenegakerjaan No13 tahun 2003 sudah diatur mengenai hak dan kewajiban baik dari pengusaha maupun buruh . Buruh berhak mendapat kesejahteraan baik melalui jaminan sosial tenaga kerja dan dari pengupahan. Namun jika kita tengok realita, buruh hanya dianggap sebagai pekerja menengah ke bawah dengan upah yang sangat rendah dan kesejahteraan yang terabaikan. Buruh hanya sebagai suatu robot bagi perusahaan yang mengandalkan keuntungan semata. Posisi tawar buruh yang rendah membuat buruh tidak berkutik menerima ketidakberpihakan yang dialami oleh mereka. Ditambah lagi dengan adanya sistem outsourcing yang membuat nasib buruh semakin terombang-ambingkan.
Nasib buruh  yang termarginalkan  tidak berhenti bagi buruh yang bekerja di wilayah Indonesia saja, namun juga nasib buruh migran Indonesia atau yang biasa kita kenal dengan TKI ( Tenaga Kerja Indonesia). Tergiur gaji yang ditawarkan membuat para buruh berbondong-bondong untuk bekerja di luar negeri. Namun bukan gaji tinggi yang didapatkan, tetapi penganiayaan, penyiksaan dan pelecehan yang justru didapatkan oleh pahlawan devisa tersebut. Fenomena semakin banyaknya angkatan kerja yang berminat menjadi buruh migran sebenarnya merupakan suatu tanda bahwa pemerintah belum berhasil memberikan masalah pengangguran dan peningkatan kesejahteraan . Bahkan pemerintah turut serta dalam kepentingan para pengusaha yang berupaya memperoleh pemasukan sebesar-besarnya bagi negara dengan mengorbankan hak- hak buruh.
Sudah selayaknya kita melihat perjuangan buruh dari setiap aksi mereka dengan bijaksana. Jangan sampai masalah buruh yang sudah semakin berakar  mencapai  puncak kompleksitas. Sebagai sebuah bangsa , sudah semestinya berempati terhadap buruh yang merupakan roda- roda industri yang merupakan penggerak perekonomian Indonesia. Pengkerdilan perjuangan kaum buruh sudah semestinya tidak lagi terjadi. Berbagai benturan kepentingan yang ada dalam elemen pemerintah dan pemilik modal jangan lagi menekan teriakan para buruh. Demi bangsa Indonesia yang bersinergi dalam perekonomian dan perindustrian sudah sebaiknya seluruh elemen baik pemerintah, pemilik modal , tidak terkecuali masyarakat peduli akan nasib buruh. Selamat hari buruh !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar